Tuesday, April 9, 2013

The Penderwicks

Sedikit keluar dari topik sebelumnya, kali ini saya akan membahas tentang resensi sebuah novel. Sebuah novel yang berhasil membawa saya berimajinasi masuk ke dalam dunia mereka. Dunia 3 orang anak perempuan yang penuh dengan tantangan dan petualangan. Novel ini saya baca beberapa tahun yang lalu. Dan berhasil membuat saya mengungat setiap detailnya hingga sekarang.

Cerita dimulai ketika keluarga Penderwick, yang beranggotakan seorang profesor botani dan keempat anak perempuannya, serta seekor anjing bernama Hound, berlibur musim panas di sebuah tempat bernama Arundel. Arundel adalah sebuah mansion luar biasa besar dan mewah yang dikelilingi taman yang indah dan rapi. Keempat gadis Penderwick adalah Rosalind, dua belas tahun, yang tertua dan paling cantik, bijaksana dan bertanggung jawab; kemudian Skye, sebelas tahun, yang tomboi dan terpandai dari semuanya; Jane, sepuluh tahun, yang bercita-cita menjadi penulis hebat dan punya alter ego bernama Sabrina Starr (yang adalah pahlawan dalam cerita-ceritanya); serta Batty si bungsu yang baru empat tahun yang manis dan sangat polos.

Akibat insiden di hari pertama mereka di Arundel yang melibatkan Skye, mereka akhirnya bersahabat dengan Jeffrey Tifton, putra pemilik Arundel. Jeffrey anak yang sangat asyik, sementara ibunya, Mrs. Tifton, telah menjadi sosok yang ditakuti gadis-gadis Penderwick bahkan sebelum mereka memasuki Arundel, karena Mrs. Tifton pemarah dan sangat overprotektif terhadap tamannya. Gadis-gadis Penderwick juga bersahabat dengan Cagney, si pemuda tukang kebun yang tampan dan punya dua ekor kelinci sangat lucu bernama Yaz dan Carla, juga Churchie si pengurus rumah tangga, dan Harry si penjual tomat.

Hari-hari mereka di Arundel diisi dengan petualangan-petualangan mengasyikkan, yang seringkali konyol namun sangat seru. Misalnya ketika mereka menyelamatkan Batty dari sapi jantan yang dikenal suka menyeruduk orang yang melanggar teritorinya. Insiden ketika dua kelinci Cagney lepas dari kandangnya. Dan juga ketika Jeffrey, Skye dan Jane bermain bola sampai lupa daratan justru ketika para juri Kontes Berkebun sedang menilai taman Mrs. Tifton. Peristiwa-peristiwa lain yang tak kalah serunya, terjadi sampai pada menjelang akhir libur musim panas. Dan sebelum mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Arundel, keluarga Penderwick membantu Jeffrey untuk menghadapi ibunya yang kurang peduli terhadap putranya dan memaksanya masuk sekolah militer.

Beberapa orang mengatakan bahwa buku ini seperti gabungan antara The Secret Garden dengan Little Women. The Secret Garden memang menyajikan taman-taman yang indah dan kisah persahabatan, namun saya belum pernah membaca Little Women. Karakter para gadis Penderwick yang bengal-bengal adalah daya tarik utama cerita ini, menurut saya. Kemudian kelincahan penulis dalam menggambarkan petualangan demi petualangan yang dialami para tokoh, dengan gaya konyol namun tetap terasa ketegangannya, dan juga ada adegan yang mengharukan, membuat saya sangat terhibur ketika membaca buku ini. Ini jenis bacaan yang akan saya baca lagi, lagi, dan lagi. Yang membuat saya kecewa hanyalah kenyataan bahwa Gramedia tidak menerbitkan sekuel dari The Penderwicks, yang berjudul The Penderwicks on Gardam Street. Jika ada, tentu saya akan sangat senang, ditambah lagi bahwa sekuel keduanya (alias buku ketiga), The Penderwicks at Point Mouette telah terbit Agustus 2011 lalu. I’m craving for more of Jeanne Birdsall’s works!

http://www.google.com



Melihat sisi lain dari cerita yang terkandung dalam novel ini, saya mekihat sekilas tentang cover dari novel trilogy ini kurang menarik dan tidak sesuai dengan target pasar dari novel ini sendiri. Target market dari novel ini sebenarnya ditujukan untuk anak-anak, namun yang dapat saya lihat di sini cover buku sanga tidak menarik untuk anak-anak. Anak-anak biasanya menyukai sesuatu yang ceria, warna-warna cerah yang membuat mereka melirik dan tertarik juga dengan ilustrasi yang lucu. Tapi dalam novel ini hanya menggunakan ilustrasi dengan menggambarkan siluet dari 4 orang anak perempuan dengan warna kuning dan background berwarna coklat, dimana warna itu belum bisa mewakili warna-warna ceria yang disukai oleh anak-anak.


Novel ini juga mempunyai dua cover yang berbeda untuk novel yang berjudul The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters. Ada cover yang berwarna kuning dan coklat dan ada yang berwarna biru dengan ilustrasi dan jenis tipografi yag berbeda. Masalah ini bisa membuat peminat bingung kenapa ada dua cover yang berbeda untuk sebuah buku. Namun, cover buku yang berwarna biru ini mempunyai sistem grafis yang dapat menymbungkannya dengan dua judul buku yang lainnya. Ketiganya memakai warna biru sebagai warna dasarnya, menggunakan gaya gambar yang sama yaitu menggambarkan siluet objek, dan menggunakan jenis huruf yang sama untuk penulisan judulnya.

Detail buku:
“Keluarga Penderwick” (judul asli: The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy), oleh Jeanne Birdsall
291 halaman, diterbitkan Maret 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama